Sumsel

Pj Gubernur Elen Setiadi Terus Lakukan Mitigasi Inflasi Meski Kemsikinan di Sumsel Turun

Atiek Widyastuti | 4 Juli 2024, 15:23 WIB
Pj Gubernur Elen Setiadi Terus Lakukan Mitigasi Inflasi Meski Kemsikinan di Sumsel Turun

AKURAT.CO SUMSEL Berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel, angka kemiskinan di provinsi tersebut menunjukkan tren penurunan yang signifikan pada tahun 2024.

Jumlah penduduk miskin turun dari 1,04 juta orang (11,78 persen) pada tahun 2023 menjadi 984,24 ribu orang (10,97 persen) pada tahun 2024, penurunan sebanyak 61,4 ribu orang atau 0,81 persen.

Penjabat (Pj) Gubernur Sumsel, Elen Setiadi menekankan pentingnya menjaga tren positif ini agar tidak terjadi peningkatan kembali.

"BPS Sumsel telah merilis data penurunan angka kemiskinan, namun jika tidak dijaga, angka ini bisa naik lagi," ujarnya, Kamis (4/7/2024).

Elen menjelaskan bahwa salah satu langkah yang diambil adalah mengundang tim pengendalian inflasi dari pusat untuk berdiskusi mengenai strategi yang perlu dilakukan.

"Kami telah berbicara tentang apa yang harus diperbaiki ke depannya agar pengendalian inflasi tetap terjaga dan angka kemiskinan dapat terus menurun," tambahnya.

Baca Juga: 3 Kolam Renang Aneh di Dunia yang Wajib Dikunjungi, Nomor 1 Ada di ASEAN

Upaya untuk mengendalikan inflasi di Sumsel melibatkan berbagai pihak, termasuk Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan instansi terkait lainnya.

"Kita perlu melakukan langkah mitigasi sejak dini, misalnya jika ke depan akan terjadi inflasi makanan, kita harus melakukan persiapan mulai dari analisis data, pelaporan, dan lain-lain," kata Elen.

Meskipun Sumsel merupakan salah satu produsen beras terbesar setelah Jawa, beras masih menjadi komoditas utama yang menyumbang garis kemiskinan dan inflasi.

Di perkotaan, beras menyumbang 19,64 persen terhadap garis kemiskinan, sementara di perdesaan angkanya mencapai 25,38 persen.

Selain itu, rokok kretek filter juga memberikan kontribusi signifikan terhadap garis kemiskinan, yakni 10,26 persen di perkotaan dan 11,52 persen di perdesaan.

"Ada anomali yang terjadi di Sumsel. Meskipun produksi padi kita terbesar setelah Jawa, beberapa daerah masih tinggi menyumbang inflasi dan kemiskinan," ujar Elen.

Ia menambahkan bahwa faktor penggilingan, distribusi, dan kerjasama antar daerah perlu diperbaiki untuk mengatasi masalah ini.

Kepala BPS Sumsel, Moh Wahyu Yulianto, mengonfirmasi penurunan jumlah penduduk miskin di Sumsel.

"Jumlah penduduk miskin Sumsel pada Maret 2024 mencapai 984,24 ribu orang, turun 61,4 ribu orang dibandingkan dengan Maret 2023 yang mencapai 1,04 juta orang," katanya. (Kurnia)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

A
H
Editor
Hermanto