Sumsel

Terhimpit Mobil Listrik China, Nasib Mobil Murah LCGC Kini di Ujung Tanduk

Maman Suparman | 26 Januari 2026, 14:00 WIB
Terhimpit Mobil Listrik China, Nasib Mobil Murah LCGC Kini di Ujung Tanduk

AKURAT.CO SUMSEL Segmen Low Cost Green Car (LCGC) yang selama satu dekade terakhir menjadi primadona pasar otomotif tanah air, kini menghadapi ancaman serius. Data terbaru Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) tahun 2025 menunjukkan penurunan drastis pada angka penjualan mobil "murah" tersebut.

Tercatat, penjualan LCGC merosot tajam sebesar 27% menjadi hanya 130.799 unit sepanjang 2025. Angka ini turun signifikan jika dibandingkan tahun 2024 yang masih mampu menembus 178.726 unit. Tren negatif ini sebenarnya sudah mulai terasa sejak 2024, di mana pasar LCGC juga menyusut 10% dari raihan hampir 200 ribu unit di tahun 2023.

Penyebab utama anjloknya minat masyarakat terhadap LCGC diduga kuat karena banjirnya mobil listrik (EV) asal China yang dibanderol di bawah Rp 200 juta.

Dengan harga yang kompetitif, konsumen kini mulai beralih dari mobil berbahan bakar bensin (ICE) ke kendaraan masa depan.

Baca Juga: Terobosan Baru, Mercedes AMG Uji Coba Pengisian Daya Mobil Listrik 1 Megawatt

Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara, menyebutkan bahwa kendaraan elektrifikasi (xEV) kini telah menguasai lebih dari 16% pangsa pasar. Pertumbuhan ini secara langsung memangkas porsi mobil konvensional, terutama segmen LCGC.

"Pasarnya tumbuh (untuk EV), maka memakan porsi konvensional. Yang terdampak adalah LCGC dan juga konvensional non-LCGC," jelas Kukuh dalam keterangannya baru-baru ini.

Menanggapi situasi ini, Ketua I Gaikindo Jongkie D. Sugiarto menilai produsen LCGC harus segera berinovasi atau mencari pangsa pasar baru agar tidak semakin tergerus. Menurutnya, ketergantungan pada mesin bensin membuat LCGC mulai ditinggalkan oleh masyarakat perkotaan yang sudah memiliki infrastruktur pengisian daya listrik.

Namun, Jongkie melihat masih ada celah harapan bagi LCGC di wilayah luar Jawa atau daerah pelosok.

"Indonesia ini luas, tidak bisa semua langsung beralih ke mobil listrik. Di daerah terpencil, infrastruktur listrik mungkin belum memadai. Maka, LCGC harus mencari pasar ke sana," ungkap Jongkie.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
K
Editor
Kurnia