El Nino Berpotensi Picu Kenaikan Harga Pangan, TPID Sumsel Gencarkan Operasi Pasar

AKURAT.CO SUMSEL Potensi kenaikan harga sejumlah komoditas pangan akibat fenomena El Nino dan kemarau berkepanjangan di Sumsel.
Komoditas yang menjadi perhatian antara lain daging ayam ras, minyak goreng, serta berbagai produk hortikultura.
Kepala Kantor Perwakilan BI Sumsel sekaligus anggota Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), Bambang Pramono, mengatakan tekanan harga dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari biaya pakan ternak hingga kenaikan harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di pasar global.
“Tekanan inflasi berasal dari harga komoditas daging ayam ras, seiring perkembangan biaya pakan dan permintaan pangan. Kemudian harga minyak goreng juga berpotensi terdampak kenaikan harga karena harga CPO global naik,” ujarnya, Jumat (9/10/2026).
Selain daging ayam dan minyak goreng, kemarau yang berlangsung lebih panjang juga berisiko mengganggu pasokan komoditas hortikultura. Curah hujan yang diprakirakan berada di bawah normal dapat memengaruhi produktivitas pertanian akibat terbatasnya ketersediaan air.
“Kenaikan harga komoditas hortikultura berkaitan dengan musim kemarau berkepanjangan yang menekan produktivitas,” kata Bambang.
Baca Juga: 88 Warga Palembang Dapat Umrah Gratis dari Pemkot, Ada Pendonor Darah hingga Juara MTQ
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Sumatera Selatan mencatat inflasi sebesar 0,21 persen secara bulanan (month-to-month atau mtm) pada September 2026. Angka tersebut meningkat dibandingkan Agustus 2026 yang sebesar 0,06 persen.
Sementara itu, inflasi tahunan (year-on-year atau yoy) Sumsel tercatat 2,55 persen, sedikit lebih rendah dibandingkan 2,60 persen pada Agustus.
Di tingkat nasional, inflasi tahunan pada September 2026 mencapai 3,28 persen, naik dari 3,19 persen pada bulan sebelumnya.
Bambang menilai perkembangan tersebut perlu menjadi perhatian TPID untuk mengantisipasi risiko kenaikan harga pangan pada periode berikutnya, terutama jika gangguan produksi dan distribusi semakin memengaruhi ketersediaan komoditas di pasar.
Baca Juga: Kepergok Bakar Lahan untuk Berkebun, Pria 70 Tahun Diamankan Polisi di Banyuasin
Untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan, TPID Sumsel menjalankan strategi pengendalian inflasi melalui pendekatan 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, serta komunikasi yang efektif.
Hingga akhir September 2026, lebih dari 493 kegiatan telah dilaksanakan di berbagai wilayah Sumsel. Kegiatan tersebut mencakup operasi pasar murah, Gerakan Pangan Murah (GPM), dan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).
TPID juga melakukan inspeksi pasar untuk memantau ketersediaan barang sekaligus memastikan kepatuhan pedagang terhadap ketentuan harga eceran tertinggi (HET).
Bambang mengatakan langkah pengendalian tersebut diperlukan untuk menjaga pasokan dan menekan risiko lonjakan harga di tengah kondisi cuaca yang berpotensi mengganggu produksi pangan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Motorola Moto G37, Moto G77 Power dan Moto G67 Resmi Rilis di Indonesia, Ini Spesifikasi dan Harganya
- 2Bansos PKH BPNT Tahap 4 Cair Mulai Oktober 2026, Cek Namamu Terdaftar atau Tidak di Sini
- 3Daftar 18 Perusahaan Penyumbang Hotspot Karhula di Palembang Versi Walhi
- 4Ramalan Zodiak Libra Hari Ini 6 Oktober 2026: Karier Makin Disorot, Keuangan Jangan Impulsif
- 5Ramalan Zodiak Hari Ini 9 Oktober 2026, 5 Zodiak Ini Punya Peluang Baik dalam Karier dan Asmara
- 622 Ribu Lebih Hotspot di Lahan Konsensi, 12 Perusahaan di Sumsel Disegel
- 75 Ramalan Zodiak Hari Ini 7 Oktober 2026, Ada yang Berpeluang Hoki
- 8Naik Tipis, Berikut Harga Emas Perhiasan Palembang Selasa 6 Oktober 2026
- 9Lindungi Warga dari Asap Karhutla, Puskesmas di Sumsel Diminta Buka 24 Jam
- 105.303 Jemaah Haji Debarkasi Palembang Sudah Kembali, Empat Kloter Masih Ditunggu







