Sumsel

Ekspor CPO Melemah, Penerimaan Kepabeanan dan Cukai Sumsel Turun

Kurnia | 31 Agustus 2026, 19:00 WIB
Ekspor CPO Melemah, Penerimaan Kepabeanan dan Cukai Sumsel Turun
Ilustrasi.

AKURAT.CO SUMSEL Penurunan volume ekspor crude palm oil (CPO) dan produk turunannya berdampak terhadap penerimaan negara dari sektor kepabeanan dan cukai di Sumatera Selatan (Sumsel).

Kondisi tersebut terjadi ketika industri sawit masih menjadi salah satu sektor yang memberikan kontribusi besar terhadap penerimaan pajak Sumsel pada semester I 2026.

Berdasarkan data Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Sumsel, pendapatan negara hingga 30 Juni 2026 mencapai Rp7,95 triliun. Jumlah itu setara 40,19 persen dari target APBN dan tumbuh 17,87 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Penerimaan pajak menjadi sumber terbesar dengan realisasi Rp6,095 triliun atau 35,98 persen dari target. Penerimaan tersebut tumbuh 18,05 persen secara tahunan.

Baca Juga: Luas Karhutla Palembang Capai 185 Hektare, BNPB Kirim Bantuan Peralatan Pemadam

DJPb Sumsel menyebut peningkatan setoran Pajak Penghasilan (PPh) Badan turut mendorong pertumbuhan penerimaan pajak. Industri sawit menjadi salah satu sektor dengan kontribusi besar, selain perbankan umum konvensional dan industri karet remah.

“Pertumbuhan tersebut dipengaruhi oleh peningkatan setoran masa PPN sektor administrasi pemerintahan, peningkatan setoran masa PPh Badan dengan kontribusi terbesar dari industri sektor sawit, bank umum konvensional, dan industri karet remah,” tulis DJPb Sumsel dalam keterangannya, Senin (31/8/2026).

Namun, kinerja industri sawit dari sisi ekspor justru mengalami tekanan.

Penerimaan kepabeanan dan cukai Sumsel hingga Juni 2026 tercatat Rp205,37 miliar atau 55,27 persen dari target. Meski realisasinya telah melewati separuh target, angka tersebut turun 20,08 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

DJPb Sumsel menyebut kontraksi tersebut terutama disebabkan penurunan penerimaan bea keluar yang dipengaruhi turunnya volume ekspor CPO dan produk turunannya.

“Penerimaan kepabeanan dan cukai terealisasi sebesar Rp205,37 miliar atau 55,27% dari target, namun mengalami kontraksi 20,08% (yoy) akibat penurunan penerimaan bea keluar yang dipengaruhi menurunnya volume eksportasi CPO dan produk turunannya,” jelas DJPb Sumsel.

Pelemahan ekspor juga tercermin dalam data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel.

Sepanjang Januari-Juni 2026, nilai ekspor kumulatif Sumsel tercatat turun 13,14 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Penurunan tersebut didorong melemahnya ekspor nonmigas di berbagai sektor. Salah satunya sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang mengalami kontraksi 24,78 persen.

Di sisi lain, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) mencatat pertumbuhan positif. Hingga akhir Juni 2026, realisasi PNBP mencapai Rp1,65 triliun atau 66,76 persen dari target.

Realisasi PNBP tersebut tumbuh 24,55 persen secara tahunan.

Baca Juga: Harga Emas Perhiasan Palembang Turun Lagi di Akhir Agustus 2026, Cek Rincian Terbarunya di Sini

Secara keseluruhan, pendapatan negara Sumsel masih mencatat pertumbuhan hingga semester I 2026. Namun, penurunan penerimaan kepabeanan dan cukai menunjukkan adanya tekanan dari melemahnya aktivitas ekspor komoditas.

DJPb Sumsel menilai pertumbuhan pendapatan negara secara umum masih menunjukkan kondisi ekonomi regional yang tetap terjaga.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia