Sumsel

Saat SBY Kirim AHY Jadi Pasukan Perdamaian Pertama ke Lebanon

Septiyanti Dwi Cahyani | 7 April 2026, 08:00 WIB
Saat SBY Kirim AHY Jadi Pasukan Perdamaian Pertama ke Lebanon
Mantan Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)..

AKURAT. CO SUMSEL - Gugurnya para prajurit TNI yang menjadi pasukan perdamaian PBB di Lebanon membuat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengingat kembali masa di saat dirinya mengeluarkan kebijakan mengirimkan Pasukan Penjaga Perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon (UNIFIL).

Kenangan itu ia tuliskan dalam cuitan akun media sosial X miliknya @SBYudhoyono pada Minggu (5/4/2026).

Dalam cuitannya, SBY mengatakan, saat menjadi presiden Indonesia, ia berinisiatif dan mengusulkan kepada PBB untuk mengirimkan satu batalyon plus Indonesia sebagai bagian dari UNIFIL.

Baca Juga: Harga Karet Global Menguat di Awal April, Petani Diminta Jaga Kualitas Bokar

"Ini adalah sejarahnya, pada bulan Agustus 2006 terjadi perang antara Israel dan Lebanon. Korban berjatuhan utamanya dari pihak Lebanon," ucap SBY, dikutip Selasa (7/4/2026).

Dewan Keamanan PBB saat itu belum melakukan langkah yang efektif untuk menghentikan perang.Kemudian Perdana Menteri Malaysia Abdullah Badawi berkunjung ke Jakarta.

Saat itulah SBY mengusulkan kepada Badawi yang juga menjabat sebagai Chair of OIC (Organisasi Kerjasama Negara-Negara Islam/OKI) agar menggelar emergency meeting untuk mendesak PBB segera bertindak.

Baca Juga: Wali Kota Palembang Minta Kadis PU Baru Turun Tangan Atasi Banjir di Sejumlah Titik

Beberapa hari kemudian, pertemuan itu digelar dan dihadiri beberapa pemimpin negara, termasuk Indonesia, Malaysia, Iran, Turki, dan Lebanon pada masa itu.

Pada pertemuan tersebut, SBY menyampaikan siap mengirim pasukan satu batalyon sebagai bagian dari penjaga perdamaian di perbatasan Israel dengan Lebanon.

"Saya masih ingat, karena dipersyaratkan penggunaan kendaraan tempur mekanis dan Anoa kita belum siap, segera saya menelepon Presiden Perancis Jacques Chirac, dengan tujuan Indonesia ingin membeli kendaraan tempur VAB buatan Perancis untuk segera bisa dikirim ke Lebanon," kenang SBY dalam cuitannya.

Baca Juga: Kenaikan Harga Plastik Jadi Momentum Masyarakat Palembang Kurangi Limbah Sekali Pakai

Gerak cepat itu berbuah hasil, Perancis bersedia dengan pembelian tersebut dan proses pengirimannya berlangsung secara cepat karena dalam pengadaan alutsista tersebut SBY menggunakan format G to G atau pemerintah dengan pemerintah.

Tiga bulan kemudian, kontingen Indonesia pertama, Garuda XXIII/A sudah bisa berangkat ke Lebanon.

Dengan bangga, SBY kemudian menyebutkan bahwa kontingen pasukan pertama yang dikirim Indonesia ke Lebanon termasuk putranya sendiri, Agus Harimurti Yudhoyono yang saat ini menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan di Kabinet Prabowo-Gibran.

Baca Juga: Jumlah Guru SMP di Sumatera Selatan Capai 26.905, Palembang Paling Banyak

"Untuk diketahui, tiga orang anggota kabinet Presiden Prabowo adalah bagian dari kontingen Indonesia tersebut, yaitu Kapten Kav Muhammad Iftitah Sulaiman, Lettu Inf Agus Harimurti Yudhoyono, dan Lettu Kav Ossy Dermawan," ucapnya.

Terhitung sejak 2006 hingga kini tahun 2026, SBY mengatakan sudah 19 kali kontingen Indonesia bertugas di Lebanon dengan masa penugasan rata-rata satu tahun.

Sebelum mengakhiri cuitannya, SBY mengatakan, sebagai seorang sesepuh dan senior TNI, ia menyampaikan kepada para prajurit Kontingen Garuda XXIII/S yang masih berada di Lebanon untuk tetap bersemangat dalam mengemban tugas mulia ini.

Baca Juga: Diiming-imingi Donat, Anak SD Berhasil Selamat dari Percobaan Penculikan

SBY pun mengingatkan kepada para pasukan agar selalu menjaga diri dan mengingat bahwa ada keluarga tercinta yang menunggu di rumah.

"Do your best dan jaga diri baik-baik. Keluarga yang mencintai kalian menunggu kehadiran kembali di Tanah Air," tandasnya. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.