Sumsel

Modifikasi Cuaca Digencarkan, 3.200 Kg Garam Disemai di Langit Sumsel

Maman Suparman | 15 Juli 2025, 17:02 WIB
Modifikasi Cuaca Digencarkan, 3.200 Kg Garam Disemai di Langit Sumsel

AKURAT.CO SUMSEL Mengantisipasi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meningkat selama musim kemarau, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Selatan (Sumsel) menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan dukungan penuh dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Operasi ini telah berlangsung sejak Minggu (13/7/2025) dan dijadwalkan hingga Kamis (17/7/2025), dengan fokus utama pada wilayah-wilayah gambut rawan terbakar, khususnya Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) yang dikenal sebagai kantong titik panas saat kemarau tiba.

“Saya minta penyemaian difokuskan di kawasan gambut, karena jika terbakar, asapnya bisa sampai ke Palembang,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Sumsel, Iqbal Alisyahbana, saat dikonfirmasi, Selasa (15/7/2025).

Selama lima hari pelaksanaan, tim OMC telah melakukan empat sorti penerbangan, dengan tiga kali penyemaian di langit OKI dan satu sorti di Banyuasin.

Pada 14 Juli saja, sebanyak 3.200 kilogram garam disebar ke awan sebagai pemicu hujan buatan, sementara pada hari pertama operasi (13 Juli), satu sorti telah dilaksanakan.

Baca Juga: Edarkan Sabu dan Ekstasi, 19 Tersangka Terancam Hukuman Mati di Sumsel

Setiap sorti membawa sekitar 800 kilogram NaCl (garam) yang digunakan untuk mempercepat proses kondensasi di awan potensial.

“Jika bibit awan masih memungkinkan, kami sudah ajukan perpanjangan operasi ke BNPB. Ini penting agar pembasahan lahan gambut terus berlangsung hingga puncak musim kemarau,” tambah Iqbal.

Selain OKI, beberapa kabupaten lain yang masuk radar OMC adalah Musi Banyuasin (Muba), Banyuasin, PALI, dan Muara Enim. Wilayah-wilayah ini memiliki karakteristik serupa dengan OKI dan kerap dilanda karhutla hebat di tahun-tahun sebelumnya.

Iqbal memastikan, seluruh jajaran BPBD Sumsel akan tetap siaga hingga akhir November 2025, menyesuaikan kondisi iklim yang masih berpotensi memicu kebakaran.

“Kami tidak bisa bergantung pada curah hujan alami. Operasi seperti ini penting untuk mencegah kebakaran sejak dini, bukan hanya memadamkan saat sudah membesar,” tegasnya. 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
K
Editor
Kurnia