Perlambatan Sektor Konstruksi Sumsel Cerminkan Mandeknya Proyek Strategis Nasional

AKURAT.CO SUMSEL Kinerja sektor konstruksi di Provinsi Sumatera Selatan mengalami perlambatan signifikan pada triwulan pertama 2025.
Menurut laporan terkini dari Bank Indonesia, pertumbuhan sektor ini hanya mencapai 2,92 persen (YoY) angka yang jauh di bawah capaian pada periode yang sama tahun lalu.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumsel, Bambang Pramono menjelaskan bahwa penurunan ini berkaitan erat dengan terhambatnya sejumlah Proyek Strategis Nasional (PSN), khususnya proyek infrastruktur penunjang sektor pertanian seperti Bendungan Tiga Dihaji, Irigasi Lematang, dan Irigasi Lempuing.
“Kredit untuk sektor konstruksi juga tercatat terkoreksi sebesar 9,82 persen secara tahunan. Ini menunjukkan bahwa geliat pembiayaan proyek-proyek infrastruktur masih lesu,” ungkap Bambang, Rabu (2/7/2025).
Salah satu proyek besar yang menjadi sorotan adalah Bendungan Tiga Dihaji di OKU Selatan, yang saat ini progresnya baru mencapai 57,81 persen per 26 Juni 2025.
Proyek yang semula dijadwalkan rampung pada awal 2024 itu kini diundur hingga 2026, akibat kendala pengadaan lahan dan perubahan desain teknis.
“Kami masih terus berupaya mengejar percepatan melalui sinergi antara pemerintah pusat dan daerah,” ujar Feriyanto Pawenrusi, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Sumatera VIII.
Sementara itu, pembangunan Irigasi Lempuing baru menyentuh angka 25 persen karena beberapa kali mengalami kegagalan lelang. Tender ulang untuk supervisi dan perencanaan menghambat kemajuan proyek yang ditargetkan selesai pada 2027.
Adapun Jaringan Irigasi Lematang, yang semula masuk dalam daftar PSN, kini dicoret dari daftar PSN periode 2025–2029 sesuai Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2025. Proyek tersebut saat ini telah memasuki masa pemeliharaan hingga Maret 2026.
Kendati sektor konstruksi tersendat, BI menilai fundamental ekonomi Sumsel tetap solid, dengan proyeksi pertumbuhan tahun 2025 yang diperkirakan berada di kisaran 4,6 hingga 5,4 persen.
Beberapa indikator yang menjadi penopang antara lain daya beli masyarakat yang tetap stabil, nilai tukar petani yang membaik, serta peningkatan mobilitas masyarakat pasca-pandemi.
Bambang menekankan bahwa keberlanjutan proyek-proyek PSN dan program swasembada pangan harus menjadi prioritas untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah secara inklusif.
“Tidak cukup hanya menjaga konsumsi. Kita butuh akselerasi investasi publik, terutama dalam sektor yang mendukung ketahanan pangan dan infrastruktur dasar,” tegasnya.
Dengan realisasi proyek PSN yang lambat dan dana konstruksi yang belum mengalir optimal, tantangan pembangunan Sumsel ke depan membutuhkan koordinasi lintas sektor yang lebih kuat dan efisiensi dalam implementasi proyek.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Klasemen Sementara Asian Games 2026: Indonesia di Urutan 14 Raih 27 Medali
- 2Penyaluran Bansos Tahap 3 September 2026 Berakhir Minggu Depan, Cek Tanda Bantuan Siap Cair
- 3iPhone 18 Pro Max vs Xiaomi 18 Pro Max, Adu Spek Flagship 2026: Kamera 200MP hingga Baterai 8.500 mAh
- 415 Daerah di Sumsel Berpotensi Hujan Besok Siang, Cek Daftar Wilayahnya
- 5Ciri-ciri Bansos PKH BPNT September 2026 Cair dan Masuk Rekening
- 6Jadwal Timnas Indonesia Vs Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026, Tayang Jam Berapa?
- 7Harvest Moon 26-27 September 2026, Ini Waktu Puncak Bulan Purnama di Indonesia
- 8Ramalan Zodiak Aries Hari Ini 28 September 2026, Ada Peluang Finansial dan Tantangan dalam Hubungan
- 9Lindungi Warga dari Asap Karhutla, Puskesmas di Sumsel Diminta Buka 24 Jam
- 105.303 Jemaah Haji Debarkasi Palembang Sudah Kembali, Empat Kloter Masih Ditunggu









