Sumsel

Sumsel Masuki Masa Transisi Kemarau, BMKG: Masih Ada Potensi Hujan Disertai Petir

Maman Suparman | 1 Juli 2025, 14:37 WIB
Sumsel Masuki Masa Transisi Kemarau, BMKG: Masih Ada Potensi Hujan Disertai Petir

AKURAT.CO SUMSEL Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel) mulai memasuki fase transisi dari musim hujan ke musim kemarau.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat penurunan curah hujan di sebagian besar wilayah, dengan Hari Tanpa Hujan (HTH) terpanjang terjadi di Kabupaten Muara Enim selama 19 hari berturut-turut.

“Meski curah hujan secara umum menurun, potensi hujan tiba-tiba yang disertai petir dan angin kencang masih dapat terjadi di beberapa wilayah,” kata Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel, Wandayantolis, Selasa (1/7/2025).

Menurut BMKG, sejumlah wilayah seperti Muara Enim, Prabumulih, OKU, OKU Timur, OKU Selatan, Lahat, Pagar Alam, Musi Rawas, Musi Rawas Utara, Lubuk Linggau, dan Musi Banyuasin masih mengalami curah hujan dengan intensitas sedang berkisar antara 50 hingga 150 milimeter.

Bahkan, sebagian kecil wilayah OKU Selatan masih tercatat berada dalam kategori curah hujan tinggi, yakni 150 hingga 300 milimeter.

“Curah hujan tertinggi terpantau di Pos Hujan Pajar Bulan, Kabupaten Lahat, sebesar 276 milimeter,” jelas Wandayantolis.

Baca Juga: MSS Tampilkan Program Pemberdayaan Ekonomi Pasien TBC di Konferensi Nasional BCF 2025

Sementara itu, sejumlah daerah mengalami peningkatan hari tanpa hujan. Di Muara Enim, tercatat HTH terpanjang mencapai 19 hari, sementara di Musi Banyuasin dan Palembang berada pada kategori HTH pendek, yakni 6 hingga 10 hari tanpa hujan.

BMKG memprediksi peluang hujan akan kembali muncul di awal dasarian I Juli 2025 (periode sepuluh harian pertama), meskipun sebagian besar wilayah Sumsel masih diperkirakan mengalami curah hujan rendah dengan peluang lebih dari 60 persen.

Namun demikian, beberapa wilayah seperti barat Muratara, tengah Musi Rawas, timur laut Lubuk Linggau, tengah Musi Banyuasin, selatan Lahat dan Muara Enim, timur Pagar Alam, hingga sebagian besar OKU Selatan, masih memiliki peluang curah hujan menengah dengan probabilitas lebih dari 40 persen.

“Dengan potensi tersebut, hujan mendadak tetap bisa terjadi. Masyarakat diminta tetap waspada dan menjaga sanitasi lingkungan sekitar,” imbaunya.

Berdasarkan hasil pemantauan BMKG pada dasarian II Juni 2025, kondisi iklim global saat ini berada dalam fase netral.

Indeks Indian Ocean Dipole (IOD) dan El Nino Southern Oscillation (ENSO) masih menunjukkan ketidakaktifan hingga diprediksi bertahan hingga paruh kedua tahun ini.

Selain itu, fenomena Madden Julian Oscillation (MJO) yang biasanya berdampak pada pola hujan di wilayah Indonesia, belum aktif dan baru diperkirakan aktif kembali pada fase 7 atau wilayah Pasifik di awal dasarian I Juli 2025.

“Angin timuran mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia. Di sekitar Sumatra terpantau adanya belokan angin dan pusat tekanan rendah di perairan barat Sumatera dan barat Kalimantan yang turut memengaruhi pola cuaca,” tambah Wandayantolis.

BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi perubahan cuaca yang cepat, terutama dalam masa peralihan ini, serta menjaga lingkungan agar tetap bersih guna mencegah munculnya penyakit yang berkaitan dengan perubahan musim.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
K
Editor
Kurnia