Sumsel

Sekda Sumsel Ikuti Rakor Inflasi dan Program Sekolah Garuda, Arahkan Pengembangan SDM Unggul

Maman Suparman | 14 April 2025, 21:00 WIB
Sekda Sumsel Ikuti Rakor Inflasi dan Program Sekolah Garuda, Arahkan Pengembangan SDM Unggul

AKURAT.CO SUMSEL Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) didorong untuk segera mengajukan lahan sebagai lokasi pembangunan Sekolah Unggulan Garuda.

Hal ini mengemuka dalam Rapat Pengendalian Inflasi Daerah yang digelar secara virtual oleh Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Senin (14/4/2025), dan diikuti langsung oleh Sekretaris Daerah Sumsel, Edward Chandra dari Sumsel Command Center.

Sekolah Unggulan Garuda merupakan program prioritas nasional di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (KemendiktiSaintek) yang menjadi bagian dari visi besar Asta Cita Presiden RI dalam menciptakan sumber daya manusia (SDM) unggul, khususnya di luar Pulau Jawa.

“Program ini sangat penting untuk membangun SDM berkualitas di daerah. Kami berharap kepala daerah segera mendaftarkan lahannya agar bisa terpilih sebagai lokasi Sekolah Garuda yang baru,” ujar Sekjen Kemendagri, Tomsi Tohir, saat memimpin rapat.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Prof. Stella Christie, menambahkan bahwa Sekolah Unggulan Garuda akan difokuskan di kota kecil dan desa-desa sebagai pusat pengembangan talenta muda di bidang sains dan teknologi.

Baca Juga: Gubernur Herman Deru: Pemeriksaan Disperkim oleh Kejati Terkait Pasar Cinde Hanya Tindak Lanjut, Bukan Kasus Baru

“Sekolah ini dirancang menjadi lokomotif pendidikan unggulan di daerah, menciptakan generasi yang tidak hanya unggul akademis, tetapi juga mampu bersaing secara global,” kata Stella.

Selain membahas pendidikan, rapat juga menyoroti perkembangan inflasi nasional. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) RI, Amalia Adininggar Widyasanti, memaparkan bahwa inflasi bulan Maret 2025 secara bulanan (month to month) tercatat sebesar 1,65 persen, sementara inflasi tahunan (year on year) mencapai 1,03 persen.

Menurutnya, tingginya inflasi bulan Maret disebabkan oleh berakhirnya program diskon listrik 50 persen, yang sebelumnya diberikan untuk menekan dampak kenaikan harga energi. Komoditas lain yang turut memicu inflasi antara lain bawang merah, ikan segar, cabai rawit, dan daging ayam ras.

“Kita perlu mewaspadai fluktuasi harga-harga pangan ini, karena menyangkut kebutuhan dasar masyarakat. Pemerintah daerah perlu terus melakukan intervensi agar inflasi tidak berdampak pada daya beli,” jelas Amalia.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
K
Editor
Kurnia