Sumsel

Karena Hal Ini, Pengamat Politik Sebut Kotak Kosong Sulit Menang di Sumsel

Haris Ma'ani | 2 September 2024, 16:04 WIB
Karena Hal Ini, Pengamat Politik Sebut Kotak Kosong Sulit Menang di Sumsel

AKURAT.CO SUMSEL Pilkada Serentak di Sumatera Selatan menghadapi tantangan unik dengan munculnya kemungkinan kotak kosong sebagai salah satu opsi dalam pemilihan. Meskipun kotak kosong pernah mencatatkan kemenangan, seperti dalam Pilkada Kota Makassar 2018, peluang ini masih dipandang sebagai tantangan besar di Sumsel.

Menurut Pengamat Politik UIN Raden Fatah Palembang, Yulion Zalpa potensi kemenangan kotak kosong di Sumsel dianggap sulit. Ini disebabkan oleh minimnya pengetahuan masyarakat mengenai mekanisme kotak kosong serta potensi kecurangan yang bisa terjadi ketika kotak kosong menjadi lawan kandidat.

"Masih belum banyaknya pengetahuan soal kotak kosong, jikalau pun kotak kosong menang pasdi ada kecurangan. Misalnya, bisa terjadi melalui manipulasi di tempat pemungutan suara (TPS) dan kurangnya sosialisasi yang efektif dari penyelenggara pemilu," ungkapnya, Senin (2/9/2024).

Kemungkinan kotak kosong menang akan lebih besar jika ada keterlibatan aktif dari masyarakat atau kelompok tertentu yang mendukung kotak kosong.

Sosialisasi dan kampanye yang intens serta pengawasan aktif selama proses pemilihan dan penghitungan suara dianggap krusial. Namun, gerakan ini memerlukan tenaga dan biaya yang tinggi, yang menjadi salah satu kendala utama.

"Saat ini, penyelenggara pemilu belum memberikan informasi yang cukup tentang kotak kosong," ujarnya.

Baca Juga: Kapolrestabes Palembang: Kami Sudah Periksa Lima Saksi Kasus Kematian Siswi SMP

"Ini menunjukkan bahwa opsi ini masih sangat asing bagi masyarakat kita. Ini dapat berdampak pada jumlah pemilih, karena beberapa mungkin memilih kotak kosong atau bahkan tidak memilih sama sekali," tambah Yulion.

Faktor biaya kontestasi yang tinggi juga menjadi salah satu penyebab utama mengapa banyak calon dan partai politik enggan mengajukan calon mereka. Banyak partai politik, terutama di tingkat lokal, merasa 'takut' untuk bersaing melawan petahana yang sudah memiliki infrastruktur kekuasaan yang kuat.

Kondisi ini mengakibatkan ketidakmampuan parpol untuk mengajukan calon mereka dan cenderung memilih jalur aman dengan tidak mengajukan kandidat.

"Daya saing dalam kontestasi politik masih rendah, dan ini berujung pada ketakutan parpol untuk bersaing secara terbuka," katanya.

Dengan kurangnya sosialisasi, biaya tinggi, dan ketakutan parpol, pilkada di Sumsel menghadapi dinamika yang rumit.

Masyarakat dan calon harus menghadapi kenyataan bahwa kontestasi ini mungkin akan sangat berbeda dari yang diharapkan, dengan kotak kosong sebagai salah satu alternatif yang tidak bisa diabaikan.

Sebagai informasi, Pilkada di Sumsel sendiri ada dua wilayah yang hanya satu kandidat maju yakni Kabupaten Empat Lawang dengan Joncik Muhammad-A Rifai. Lalu, di Kabupaten Ogan Ilir dengan Panca Wijaya Akbar-Ardani. (Kurnia)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Haris Ma'ani
H
Editor
Hermanto