Sumsel

Hindari Larangan, Pedagang Sapi Gunakan Jalur Alternatif untuk Masuk ke Sumsel  

Maman Suparman | 13 Agustus 2025, 17:15 WIB
Hindari Larangan, Pedagang Sapi Gunakan Jalur Alternatif untuk Masuk ke Sumsel  

AKURAT.CO SUMSEL Kebijakan larangan lalu lintas sapi dari daerah yang terjangkit wabah Anthrax dan Brucellosis ke Sumatera Selatan (Sumsel) ternyata memicu pedagang untuk mencari celah.

Guna memenuhi kebutuhan pasar, sapi-sapi dari wilayah tertular kini dialirkan melalui provinsi lain sebelum akhirnya masuk ke Sumsel tanpa terdeteksi dalam sistem pelaporan resmi Isikhnas.

Pejabat Otoritas Veteriner, Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Sumsel, Jafrizal, mengungkapkan bahwa status Sumsel sebagai daerah bebas penyakit tersebut membuat lalu lintas perdagangan dari wilayah wabah dilarang. Situasi ini dimanfaatkan oleh pedagang.

"Dilarangnya lalu lintas melalui aplikasi Isikhnas menuju ke Sumsel dari daerah wabah menyebabkan pelaku usaha/pedagang sapi mencari jalan lain dengan melakukan perizinan lalulintas melalui daerah yang diizinkan dan selanjutnya melalulintaskan ke Sumsel," jelas Jafrizal, Rabu (13/8/2025).

Baca Juga: Tiga Pelajar Diamankan Polisi, Diduga Hendak Gelar Balap Liar di Jakabaring

Menurut Jafrizal, kebijakan yang ketat seharusnya tidak berfokus pada pelarangan, melainkan pada pengawasan yang ketat. Ia khawatir jika pasokan sapi dari daerah produsen terus dilarang, harga sapi dan daging di Sumsel akan melambung tinggi.

Sebagai solusi, Jafrizal mengusulkan tiga kebijakan untuk mengurangi risiko penularan penyakit. Pertama, adanya komitmen dari pelaku usaha untuk menjalankan prosedur operasional standar (SOP) dengan memberikan vaksinasi pada sapi yang masuk.

Kedua, pemerintah daerah harus memperkuat otoritas veteriner di setiap kabupaten/kota. Ketiga, diperlukan keterlibatan lintas sektor, termasuk Badan Karantina, Laboratorium Veteriner, dan Balai dalam pengawasan penyakit.

Jafrizal menekankan bahwa membuka kembali jalur masuk sapi, terutama dari Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan mekanisme pengawasan yang ketat lebih efektif daripada pelarangan total yang justru memicu masuknya sapi tanpa terdeteksi.

"Otoritas Veteriner Sumsel akan mengusulkan analisis risiko yang melibatkan berbagai pihak terkait di kedua daerah tersebut untuk memastikan keamanan pasokan," ungkapnya. 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
K
Editor
Kurnia