Sumsel

Saksi Hidup Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato, Veteran Amad Masih Simpan Semangat 10 November

Maman Suparman | 10 November 2025, 13:14 WIB
Saksi Hidup Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato, Veteran Amad Masih Simpan Semangat 10 November

AKURAT.CO SUMSEL Semangat perjuangan arek-arek Suroboyo yang berkobar pada pertempuran 10 November 1945 masih membara di dada Amad, seorang veteran perang berusia 103 tahun.

Ia merupakan saksi hidup peristiwa heroik perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato (kini Hotel Majapahit), yang menjadi pemicu pertempuran besar di Surabaya dan melatarbelakangi peringatan Hari Pahlawan.

Amad tampak mengenakan seragam veteran lengkap dengan deretan pin penghargaan di dada. Meski tubuhnya renta, sorot matanya tetap tegas saat mengenang peristiwa bersejarah yang terjadi 80 tahun silam.

“Usia boleh tua, tapi semangat tetap muda,” ujarnya lirih.

Amad menceritakan, pada 19 September 1945 pagi, suasana Surabaya memanas setelah bendera Belanda kembali dikibarkan di atas Hotel Yamato.

Saat itu, ia yang masih berusia sekitar 20 tahun tinggal di kawasan Jalan Kedungturi. Ia mendengar teriakan pemuda yang menyerukan ajakan untuk menurunkan bendera tersebut.

“Anak-anak muda di Kedungturi teriak, ‘Ayo ke Yamato, robek benderanya!’ Saya yang pertama kali kepikiran cari tangga,” kenangnya.

Baca Juga: Resep Ayam Tepung Renyah ala Rumahan, Gurih di Luar, Lembut di Dalam

Amad kemudian mencari tangga di sekitar hotel agar para pemuda dapat naik ke puncak bangunan. Setelah bendera Belanda dirobek dan menyisakan warna merah putih, terdengar beberapa kali letusan tembakan dari arah hotel.

“Paling tinggi sekitar enam sampai tujuh meter. Setelah dirobek, terdengar enam kali tembakan dari arah hotel. Arek-arek langsung berpencar,” tuturnya.

Beberapa jam kemudian, Amad bertemu dengan Bung Tomo di kawasan Jalan Tidar. Dalam pertemuan itu, ia diajak ke gudang senjata tentara Jepang untuk mengambil persenjataan yang kemudian dibawa menggunakan becak ke Jalan Mawar, tempat para pemuda berkumpul dan bersiap menghadapi pasukan Belanda.

“Jam 10 malam kami kumpul di Jalan Mawar. Banyak pengungsi di sana. Seminggu kemudian pesawat Belanda datang dari timur,” ucapnya.

Menurutnya, serangan udara Belanda membuat Surabaya gelap gulita akibat listrik padam dan banyak bangunan hancur. Namun semangat rakyat Surabaya tak pernah surut.

“Bung Tomo teriak tiga kali ‘Allahu Akbar!’ sebelum menyerang. Kami tidak takut mati,” kata Amad.

Ia menyebut Bung Tomo sebagai sosok sederhana dan rendah hati, yang mampu membangkitkan semangat rakyat untuk berjuang.

Amad mengaku setiap 19 September dirinya selalu menyempatkan diri datang ke Hotel Yamato, kini Hotel Majapahit, untuk mengenang peristiwa heroik yang turut ia saksikan.

“Hotel itu sudah berubah, tapi semangatnya tidak pernah hilang,” tutupnya.

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
K
Editor
Kurnia