Sumsel

Heteroseksual Jadi Penyebab Maraknya HIV/AIDS di Sumsel

Maman Suparman | 20 Januari 2026, 18:15 WIB
Heteroseksual Jadi Penyebab Maraknya HIV/AIDS di Sumsel


AKURAT.CO SUMSEL
Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumatera Selatan mengungkapkan data mendalam terkait pemicu utama infeksi HIV/AIDS di wilayahnya sepanjang tahun 2025. Perilaku seksual berisiko, baik heteroseksual maupun homoseksual, tercatat masih menjadi motor utama penularan virus mematikan tersebut.

Khusus untuk kelompok homoseksual, Dinkes Sumsel mencatat angka yang cukup signifikan. Meski mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya, jumlah penderita baru dari kelompok ini tetap berada di angka 300-an kasus per tahun.

"Faktor risiko dari kelompok homoseksual memang masih menjadi salah satu penyumbang tertinggi untuk infeksi baru di Sumatera Selatan," ungkap Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sumsel, Ira Primadesa Ogatiyah, Selasa (20/1/2026).

Berdasarkan data evaluasi tahun 2025, tercatat ada 344 kasus infeksi baru yang dipicu oleh faktor risiko homoseksual. Angka ini menyusut jika dibandingkan tahun 2024 yang sempat mencapai 398 orang.

Baca Juga: Sepanjang 2025, Dinkes Sumsel Catat 907 Kasus Baru HIV/AIDS, Palembang Penyumbang Terbanyak

Namun, Ira menekankan bahwa penyebab tertinggi secara keseluruhan justru datang dari kelompok heteroseksual dengan total 533 kasus. Data ini menunjukkan bahwa HIV/AIDS tidak lagi hanya terbatas pada kelompok tertentu, melainkan sudah meluas ke masyarakat umum akibat rendahnya kesadaran akan seks aman. 

Penularan HIV/AIDS di Sumatera Selatan sepanjang 2025 didominasi oleh faktor risiko heteroseksual dengan 533 kasus dan homoseksual sebanyak 344 orang.

Selain itu, tercatat pula infeksi melalui biseksual (15 orang), transmisi perinatal dari ibu ke anak (11 orang), serta penggunaan jarum tidak steril (3 orang) dan transfusi darah atau donor organ (1 orang).

Tingginya angka kasus baru ini dinilai berbanding lurus dengan masih kuatnya stigma negatif terhadap Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). Ketakutan akan diskriminasi membuat banyak orang enggan melakukan pemeriksaan dini, sehingga virus seringkali baru terdeteksi saat sudah memasuki fase AIDS.

Sebagai langkah antisipasi, Dinkes Sumsel kini menggencarkan sosialisasi ke sekolah-sekolah, khususnya tingkat SMA, untuk mengedukasi generasi muda tentang bahaya seks bebas.

"Kami terus mendorong layanan konseling dan tes gratis di Puskesmas. Selain itu, kolaborasi dengan komunitas peduli HIV/AIDS diperkuat untuk memberikan pendampingan bagi ODHA dan memutus rantai diskriminasi di masyarakat," pungkas Ira.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
K
Editor
Kurnia