Sumsel

Didenger Lebih dari 10 Juta Orang! Begini Makna Lagu Perayaan Mati Rasa-Umay S Shahab yang Viral di Tik Tok

Deni Hermawan | 15 Januari 2024, 20:00 WIB
Didenger Lebih dari 10 Juta Orang! Begini Makna Lagu Perayaan Mati Rasa-Umay S Shahab yang Viral di Tik Tok

AKURAT.CO SUMSEL Lagu Perayaan Mati Rasa, yang dinyanyikan oleh Umay Shahab dan Natania Karin, tengah viral di media sosial, khususnya TikTok. Dirilis pada 3 Agustus 2023, lagu ini sukses memasuki tangga lagu Spotify Indonesia.

Popularitas Lagu Perayaan Mati Rasa semakin meningkat setelah peluncuran film terbaru karya Umay Shahab yang berjudul "Perayaan Mati Rasa."

Lagu ini dengan bait populer "bila waktunya langit memanggilmu pulang mentari," kembali viral di TikTok ketika dinyanyikan oleh Umay Shahab bersama Iqbaal Ramadhan.

Prestasi Iqbaal Ramadhan dalam menyanyikan Lagu Perayaan Mati Rasa memicu sorak sorai dan histeria dari seluruh penonton. Dengan mengenakan pakaian yang senada berwarna putih, suara merdunya sangat memukau.

Baca Juga: NO 1 Paling Menenangkan! Ini 5 Lagu yang Yang Wajib Diputar Sepulang Kantor Agar Recharge Mood Kamu

Lagu Perayaan Mati Rasa mengisahkan perpisahan sepasang kekasih yang dengan berani mencoba melepaskan satu sama lain.

Dilansir dari akun instagram Umay Shahab @umayshahab Lagu Perayaan Mati Rasa sudah didengar lebih dari 10 juta listeners di Sportify. Dalam captionnya, Umay mengatakan, "yang dirayakan mati rasa tapi ketika tau ada 10.000.000++ orang merayakan bersama laguku, hatiku rasanya penuh".

Lirik Lagu Perayaan Mati Rasa Karya Umay Shahab

Lirik:

Ho-oh

Kala mata t'lah menghunuskan
Arti pulang jadi hal yang berarti
Dan ku harus melepasmu
Dengan sederhana di tengah
Gempitanya perayaan mati rasa

Bila waktunya langit memanggilmu
Pulang, wahai mentari
Jangan kau risau
Semesta bersamamu

Biarkan rebah pada tangisku
Raga, rasa kita yang lalu
Melepas itu caraku mencintaimu

Masih nyala dalam dekapku
Semua asa yang kita rengkuh
Dan tertatih dia mencari hatimu
Dengan lembut retakkan semua
Yang kaumau dan rayakan mati rasa

Bila waktunya langit memanggilmu
Pulang, wahai mentari
Jangan kau risau
Semesta bersamamu

Biarkan rebah pada tangisku
Raga, rasa kita yang lalu
Melepas itu caraku mencinta

Biar aku berlayar ('tuk menemukanmu)
Ke mana pun ku pergi, oh-oh-oh
Kehilangan ini (menjadi saksi)
Hanya namamu doaku (oh-ho-oh-oh)
Hanya namamu doaku

Biarkan rebah pada tangisku
Raga, rasa kita yang lalu
Melepas itu caraku mencintaimu

Makna Lagu Perayaan Mati Rasa

Jika didengarkan dari sisi melodi, lagu ini memang terkesan sebagai lagu galau yang mengisahkan perasaan seseorang yang merasa mati rasa setelah kehilangan sang kekasih. Meskipun begitu, orang tersebut memiliki keberanian untuk menghadapi kenyataan dan merayakan perasaan mati rasa yang dialaminya.

Lagu "Perayaan Mati Rasa" mengandung makna yang dalam tentang cara manusia menghadapi perasaan kehilangan. Kadang-kadang, saat seseorang yang kita cintai meninggalkan kita, kita cenderung merasa kehilangan dan hampa.

Namun, Umay Shahab menyampaikan pesan bahwa kepergian seseorang seharusnya tidak membuat kita tenggelam dalam kesedihan, melainkan menjadi kesempatan untuk merayakan kenangan indah yang pernah kita bagikan bersama.

Lirik lagu ini juga menggambarkan ketenangan dan keyakinan bahwa alam semesta akan selalu menyertai kita, bahkan ketika kita merasa sendirian dan penuh kehilangan. Setiap baitnya mengandung harapan tersirat, mengajak pendengarnya untuk tetap optimis dan melanjutkan perjalanan mencari makna kehidupan, meskipun dihadapkan pada cobaan.

Itulah makna dibalik lagu Perayaan Mati Rasa karya Umay Shahab. Mari kita merenung bersama betapa indahnya sebuah lagu karya anak muda Indonesia ini dapat menjadi jendela ke dalam perasaan, cerita, dan kehidupan kita.

Semoga dalam setiap nadanya, kita menemukan kebijaksanaan, keberanian, dan keindahan yang membuat perjalanan hidup ini semakin berwarna. Semoga bermanfaat.

(MG/CC Ahmad Wiro Yuda)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

D
H
Editor
Hermanto