Sumsel

Diserang Beruang Liar, Petani di Musi Rawas Luka Parah, BKSDA Sumsel Turunkan Tim Investigasi

Maman Suparman | 7 Agustus 2025, 16:30 WIB
Diserang Beruang Liar, Petani di Musi Rawas Luka Parah, BKSDA Sumsel Turunkan Tim Investigasi

AKURAT.CO SUMSEL Serangan seekor beruang liar terhadap seorang petani karet di Musi Rawas menggemparkan warga setempat.

Kejadian langka ini langsung direspons oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumsel yang menerjunkan tim ke lokasi untuk melakukan investigasi sekaligus penanganan lanjutan.

Korban bernama Pujianto (37), warga Dusun II Desa Ciptodadi II, Kecamatan Sukakarya, diserang secara tiba-tiba saat tengah menyadap karet pada Rabu (6/8/2025) sekitar pukul 09.30 WIB. Ia ditemukan dalam kondisi tergeletak dengan luka serius di bagian wajah, perut, punggung, tangan, dan kaki.

Setelah mendapat pertolongan warga, Pujianto langsung dilarikan ke Puskesmas dan kini dirawat intensif di RSUD Sobirin Muara Beliti.

Menanggapi kejadian tersebut, Kepala Seksi Konservasi Wilayah II BKSDA Sumsel, Yusmono, menyatakan pihaknya telah menurunkan tim untuk melakukan pengecekan langsung ke lapangan.

"Sudah kita terima laporannya, tim sudah berangkat ke dua titik lokasi untuk mengumpulkan data dan kronologi lengkap. Termasuk memetakan asal beruang tersebut," jelas Yusmono, Kamis (7/8/2025).

Baca Juga: Kejati Sumsel Sita Uang Rp506 Miliar Terkait Dugaan Korupsi Kredit Bank ke Dua Perusahaan

Ia menambahkan, dalam kondisi normal, beruang khususnya jenis beruang madu yang lazim di Sumsel tidak bersifat agresif terhadap manusia.

"Serangan seperti ini sangat jarang. Dugaan awal, kemungkinan beruang merasa terancam. Bisa jadi ia sedang bersama anaknya atau terkejut karena bertemu manusia dalam jarak dekat," ujarnya.

Yusmono menjelaskan bahwa perubahan musim, terutama masuknya musim kemarau, bisa mendorong satwa liar keluar dari habitat aslinya untuk mencari makanan. Beruang juga diketahui bisa hidup di area hutan sekunder maupun kebun.

Tim BKSDA di lapangan akan melakukan upaya evakuasi atau penggiringan beruang ke habitat yang lebih aman, seperti hutan kecil di sekitar lokasi, agar tidak kembali masuk ke area permukiman atau perkebunan warga.

"Tujuan utama kami adalah mencegah konflik lanjutan antara manusia dan satwa. Kalau ditemukan, kami akan upayakan evakuasi dan penggiringan dengan cara yang tidak membahayakan kedua belah pihak," tegas Yusmono.

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
K
Editor
Kurnia