Sumsel

Sumsel Belum Dapat Penyebaran Nyamuk Wolbachia Karena Hal Ini

Muhammad Husni Mushonifi | 28 November 2023, 13:00 WIB
Sumsel Belum Dapat Penyebaran Nyamuk Wolbachia Karena Hal Ini

AKURAT.CO SUMSEL Beberapa kota Indonesia menjadi pilot project penyebaran nyamuk wolbachia, lima kota tersebut ialah Jakarta Barat, Bandung, Semarang, Bontang dan Kupang.

Bahkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) berencana untuk menambah penyebaran nyamuk wolbachia di Indonesia, tapi saat ini belum tahu pastinya kota mana saja yang mendapatkan kuota tambahan tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumsel, Trisnawarman mengatakan bahwa Sumsel tidak mendapatkan penyebaran nyamuk wolbachia karena masih bersifat uji coba.

"Kita tidak dapat, karena kan masih uji coba. Dan juga belum ada surat resmi dari Kemenkes," ujarnya, Selas (28/11/2023).

Ketika ditanyai juga mengenai sosialisasi nyamuk wolbachia, ia mengatakan belum ada sosialisasi, karena memang sifatnya baru uji coba.

"Belum ada sosialisasi, kan masih uji coba," singkatnya.

Baca Juga: Jumlah Kasus DBD di Kota Palembang Hingga Awal November Sebanyak 569 Kasus, 8 Orang Meninggal Dunia

Perlu diketahui, di Indonesia, teknologi wolbachia diterapkan melalui metode "penggantian", di mana nyamuk wolbachia jantan dan betina dilepaskan ke populasi alami.

Tujuannya adalah agar nyamuk betina kawin dengan nyamuk setempat dan menghasilkan anak nyamuk yang mengandung wolbachia. Pada akhirnya, hampir semua nyamuk di populasi alami memiliki wolbachia.

Wolbachia berfungsi untuk mencegah virus dengue menyebar di tubuh nyamuk.

Ketika nyamuk yang mengandung wolbachia menghisap darah orang yang terinfeksi virus dengue, mereka tidak dapat lagi menularkan virus dengue.

Wolbachia hanya ditemukan dalam telur nyamuk, jadi bakteri ini dapat diteruskan dari satu generasi nyamuk ke generasi berikutnya.

Akibatnya, efek perlindungan wolbachia terhadap penularan dengue fever bersifat berkelanjutan.

Metode Wolbachia telah terbukti mengurangi jumlah kasus penyakit demam berdarah dan kebutuhan rawat inap untuk pasien yang menderita penyakit tersebut.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.