Sumsel

Tradisi Mendongeng Bangkit Lagi, Akuratco Perkenalkan Channel DAI untuk Anak Indonesia

Maman Suparman | 31 Oktober 2025, 17:14 WIB
Tradisi Mendongeng Bangkit Lagi, Akuratco Perkenalkan Channel DAI untuk Anak Indonesia

AKURAT.CO SUMSEL Di tengah gempuran konten digital yang kian beragam, PT Akurat Sentra Media (Akuratco) meluncurkan channel baru bertajuk “DAI – Dongeng Anak Indonesia”, sebuah inisiatif kreatif yang bertujuan menghidupkan kembali tradisi mendongeng sebagai sarana pendidikan karakter bagi anak-anak Indonesia.

Channel ini menghadirkan kisah-kisah klasik nusantara seperti Dewi Sri, Malin Kundang, Si Kancil yang Cerdik, hingga Elang Perkasa, dikemas ulang dengan teknologi animasi modern dan sentuhan narasi yang menyentuh hati.

“DAI dibangun atas keyakinan bahwa dongeng bukan sekadar hiburan, tetapi jembatan antara hati, akal, dan karakter anak-anak,” ujar Muhammad Zakirman, Direktur Utama Akuratco, saat peluncuran DAI di Jakarta, Jumat (31/10/2025).

Menurut Zakirman, setiap cerita di DAI mengandung pesan moral yang relevan dengan kehidupan anak-anak masa kini mulai dari kejujuran, kerja sama, hingga kepedulian terhadap lingkungan.

“Kami ingin anak-anak Indonesia kembali mencintai dongengnya sendiri. Dari kisah-kisah lokal, mereka belajar menjadi pribadi yang imajinatif, berani, dan peduli,” lanjutnya.

Konten DAI dikemas dalam format video animasi storytelling yang tayang di berbagai platform digital seperti YouTube, Instagram, dan TikTok.

“Visualnya dirancang penuh emosi dan imajinasi agar anak-anak bisa belajar sambil terhibur, baik di rumah maupun di sekolah,” ungkap Luthfi Arsalan, content creator DAI.

Baca Juga: Ciptakan Vibes Liburan di Rumah Aja, Ini 4 Ide Staycation Hemat dan Minim Stres

Selain video digital, DAI juga tengah menyiapkan buku bergambar interaktif dan konten edukatif pendek yang bisa digunakan oleh guru dan orang tua sebagai sarana belajar menyenangkan.

Penulis naskah DAI, Astriyani, menuturkan bahwa DAI hadir bukan hanya untuk anak-anak, tetapi juga untuk pendidik dan komunitas literasi yang ingin memperkenalkan nilai-nilai budaya Indonesia secara menarik.

“Segmen terpenting kami adalah anak usia 4–15 tahun yang sedang membentuk karakter. Tapi kami juga ingin membantu guru dan orang tua yang mencari bahan dongeng edukatif, ringan, dan penuh pesan moral,” ujar Astriyani, yang juga mahasiswa Magister Pendidikan.

DAI tak berhenti di dunia digital. Menurut Dwike Nuraini, salah satu content creator DAI, pihaknya membuka peluang kolaborasi dengan pendidik, ilustrator, dan komunitas literasi di seluruh Indonesia.

“Kami ingin menciptakan dongeng baru yang mencerminkan keberagaman dan semangat Nusantara. Ke depan, DAI juga akan mengadakan program mendongeng keliling dan kompetisi dongeng digital,” jelas Dwike.

Seluruh konten DAI, Dongeng Anak Indonesia dapat diakses secara gratis melalui kanal resminya, yakni YouTube di kanal DAI Dongeng Anak Indonesia, Instagram dengan akun @dongenganak.indonesia, serta TikTok melalui akun @dongenganakindonesia.

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
K
Editor
Kurnia