Sumsel

Piilpres Satu Putaran Dinilai Tidak Demokratis, Pengamat: Bermotif Penyesatan 

Ali Rofi | 14 November 2023, 18:47 WIB
Piilpres Satu Putaran Dinilai Tidak Demokratis, Pengamat: Bermotif Penyesatan 

AKURAT.CO SUMSEL Kemenangan Pilpres satu putaran yang didengung dengungkan oleh pendukung ketiga capres-cawapres, dianggap hal yang tidak demokratis.

Menurut Pengamat Politik Universitas Sriwijaya, Ardiyan Saptawan, narasi tersebut memaksa orang untuk berpikir menang atau kalah, bukan benar atau salah. 

Ia menilai narasi yang dibangun pada pilpres satu putaran cenderung bermotif penyesatan ke arah intimidasi. Karena, makna demokrasi adalah menjunjung asas suara yang aspiratif, yaitu bebas dari intimidasi.

Baca Juga: Menganalisis Pengaruh No Urut Capres-Cawapres, Ini Komentar Pengamat

"Ini kan menggiring opini, jadi bukan tentang benar atau salah,"jelsnya, saat dihubungi akurat.co sumsel, Selasa (14/11/2023). .

Alasan lain, hasil poling beberapa lembaga survei menunjukkan belum ada pasangan yang mencapai 50 persen plus satu, sebagai syarat pemenang pilpres.

"Sukar untuk satu putaran, kemudian juga konfigurasi persentase yang didapat mereka juga dinamik, tidak stabil. Karena itu kemungkinan besarnya adalah dua putaran," ujarnya.

Ketika ditanya pengaruh hasil survei pada pemungutan suara , Ardiyan menjawab, apapun alasannya survei-survei itu mengganggu pikiran pemilih. 

Bagi pemilih tradisional bisa saja berpengaruh, karena cara pikir mereka ingin selalu ikut yang berpotensi menang.

"Jika hasil survei itu sampai ke masyarkat tradisional ini akan mempengaruhi mereka, kebanyakan pemilih tradisional berada di daerah. Bagi pemilih rasional tidak terlalu berpengaruh, karena mereka banyak sumber informasi," tutupnya. [ ]

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

A
Reporter
Ali Rofi
A